#ntms Jangan Suudzon

~ Sebuah catatan untuk diri sendiri a.k.a note to my self a.k.a ntms :D

Pernah liat ada yang update status/check in/tweet tentang segala ibadah yang dilakuinnya? Misal dia sedang shalat, sedekah, puasa sunnah, pengajian, dll

Kebanyakan dari kita berpikir “apaan sih tuh orang, ibadah kok di update, mau sombong / riya ya?

Aneh ya, padahal yang update status orang lain tapi kok malah kita yang sewot dan malah kita yang suudzon, kita mah gitu sih orangnya.. ( Kita? Kamu aja kali Ril :D ). Dia mau ngupdate status dengan niat apapun sebenernya bukan urusan kita, itu urusan dia dengan Allah. Karena yang tau isi hati seseorang hanya dia dan Allah. Lah kenapa jadi kita yang nambah dosa dengan suudzon sama orang tersebut. Astagfirullah…

Padahal bisa jadi dia update status tersebut dengan niat tulus dan memang ingin ngajak orang lain dalam berbuat kebaikan. Ketika seseorang ngupdate status sedang di pengajian, lalu orang yang liat di timeline jadi tertarik dan besok-besoknya orang lain jadi ikut ke pengajian, bukankah itu jadi manfaat? malah yang ngajak dengan update status tersebut Insya Allah dapet pahala karena udah ngajak pada kebaikan.

Urusan hati seseorang mah ga bisa sepenuhnya kita liat / ketahui, itu bukan wilayah kita. Siapa kita ini? yang bisa-bisanya nge-judge orang, sedangkan kita ga tau apa yang sebenarnya ada di dalem hati kamu #eh hati orang (yg update status) maksudnya :D

Tapi jangan lupa di sisi lain hal tersebut harus kita jadikan sebagai pelajaran untuk diri sendiri, jika kita belum siap dengan niat tulus tanpa sombong/riya dalam update status, nge-tweet, dsb ya jangan dilakuin juga sih, harus bener-bener diyakinin ikhlas dulu.

Jadi inti dari semua ini adalah Selamat menunaikan ibadah shaum, mohon maaf lahir batin :D eh, intinya yaitu apa yang dilakuin orang lain jangan jadi bikin dosa buat diri sendiri, jangan jadi bikin kotor hati karena suudzon, iri, dengki atau sirik kepada perbuatan orang lain. ✌️

Tips Foto dari Fotografer Senior

[Repost Postingan dari Instagram]

A photo posted by Khairil Nst (@khairilnst) on

Udah beberapa kali nonton video-video dari beberapa fotografer pro senior (om Arbain ama om Darwis), ternyata kurang lebih mereka memiliki tips-tips yang ga beda jauh. Mau numpang share ya disini, kalo di twitter namanya kultwit, di instagram kulgram kali yah hhehe sebenernya sekalian buat catetan pribadi juga. Semua yang ditulis ini adalah rangkuman dari apa yang beliau sampaikan, bukan dari saya ya (da aku mah apa atuh)

Tips #1. Kamera
Kamera apa yang paling bagus buat pemula? ini pertanyaan yang sering ditanyakan ke beberapa fotografer. Jawabannya adalah anda punya uang berapa dan kepentingan motret buat apa? Sekarang ini semakin mahal kamera semakin bagus, jadi kalau mau bagus beli lah yang paling mahal :D
Dan kalau kepentingan anda memotret hanya untuk sekedar bersenang-senang tentu ga perlu beli kamera yang harganya sampe puluhan juta rupiah :D Bagi yang ingin mencoba belajar pengaturan semi manual anda bisa mencoba dengan menggunakan kamera prosumer sebelum kamera DSLR. Bahkan saat ini beberapa handphone sudah memiliki pengaturan semi-manual, jadi sangat mumpuni buat yang mau belajar foto-foto dan hanya untuk sekedar bersenang-senang (kayak saya) 😀
Intinya kamera bukan satu-satunya faktor yang membuat foto itu jadi bagus, masih banyak faktor lain yang ga kalah penting.

Continue Reading

Hiking ke Gunung Lembu Purwakarta

[3-4 Oktober 2015] Yes akhirnya naik gunung lagi. Setelah disibukkan dengan tugas (tiada) akhir, abis wisuda langsung naik gunung, yeah!

A photo posted by Khairil Nst (@khairilnst) on

Kali ini hiking ke gunung Lembu di Purwakarta yang tingginya kurang dari 1000 mdpl, pas buat saya yang sudah lama ga naik gunung alias #kurangpiknik :D

Kali ini saya sebagai satu-satunya anggota tim dari Bandung. Berangkat sendiri naik kereta ekonomi tujuan Purwakarta (meeting point) dari stasiun Cimahi. Pukul 8 sudah siap di stasiun walau kereta agak telat, tak disangka sempat bertemu teman lama, kami ngobrol sampai kereta tiba dan kami berpisah gerbong karena disangka tempat duduk harus sesuai dengan tiket, ternyata tidak :| Harga tiket cukup enam ribu dengan harga segitu kereta berhenti di setiap stasiun.

Akhirnya sekitar pukul 12 kereta mendarat di Purwakarta dan saya menunggu rombongan dari Jakarta tiba, duduk di emperan gedung sekitar stasiun. Terlihat lalu lalang para pendaki dengan tasnya yang segede gaban, termasuk saya :D

Rombongan tiba, kami pun bersiap melanjutkan perjalanan lagi menggunakan mobil bak kurang lebih satu jam untuk sampai ke pos pendakian, yaitu daerah Sukatani. Ternyata daerah ini dilewati kereta saya tadi, jadi bagi Anda yang dari arah Bandung, mending turun di stasiun Sukatani ga perlu sampe Purwakarta, jadi bisa menghemat waktu sekitar 15 menitan :D

Sampai di pos kami lapor dan langsung bergegas naik. Medan di gunung Lembu ini bervariasi, mulai dari nanjak, nanjak banget, dan ada juga yang cukup landai. Perjalanan sampai puncak bisa ditempuh sekitar 2-3 jam tergantung barang bawaan juga :D

A photo posted by Khairil Nst (@khairilnst) on


Sebelum sampai puncak masih sempat liat sunset yang keren.

A photo posted by Khairil Nst (@khairilnst) on


Sedangkan di sisi lain gunung Lembu ini kita bisa melihat waduk Jatiluhur yang membentang luas.

A photo posted by Khairil Nst (@khairilnst) on


Kami mendirikan tenda, masak, makan dan istirahat. Sedangkan beberapa dari kami petakilan menikmati pemandangan malam Jatiluhur dari bebatuan besar di ujung gunung.

***

Keesokan hari di pagi hari kami meninggalkan tenda dan menuju bebatuan besar untuk melihat sunrise yang ternyata agak malu-malu muncul hari ini.

A photo posted by Khairil Nst (@khairilnst) on

A photo posted by Khairil Nst (@khairilnst) on

A photo posted by Khairil Nst (@khairilnst) on


Setelah puas berfoto ria, kami balik ke tenda dan ternyata barang yang kami simpan diluar seperti tissue dan keresek sampah diacak-acak sama monyeeeeet. Kami baru tahu bahwa banyak sekali monyet liar sekitar tenda kami. :(
***
Kami sarapan pagi dan beres-beres perlengkapan, dan sebelum siang hari kami sudah bergegas turun untuk kembali ke kota masing-masing. Alhamdulillah.

A photo posted by Khairil Nst (@khairilnst) on

Pantai Sayang Heulang dan Bukit Teletubies

(1 Januari 2016) Pantai Sayang Heulang ini sodaranya pantai Santolo. Kalau dateng dari arah Garut lokasinya 10 menit sebelum pantai Santolo. Pantainya masih bersih dan mudah-mudahan terus bersih. Pasirnya putih dengan pemandangan yang luar biasa. Cocok buat bersantai. Bermain air di pinggir pantai pun bisa, asal hati-hati dengan karangnya.

A photo posted by Khairil Nst (@khairilnst) on

A photo posted by Khairil Nst (@khairilnst) on

Dari pantai saya lanjut ke bukit yang keren berkat info dari penjual makanan di warung yang kita singgahi. Katanya banyak orang menyebutnya bukit teletubies. Dan benar, ternyata tak jauh dari pantai Sayang Heulang ini ada hamparan bukit kecil yang masih hijau dan saat saya berkunjung bertepatan dengan adanya peternak sapi yang sedang menggembala. Macem di luar negeri jadinya, walau saya tersadar bahwa ini di luar nagreg ternyata.

A photo posted by Khairil Nst (@khairilnst) on

A photo posted by Khairil Nst (@khairilnst) on

Selamat mantai!

Kata Yang Dibenci Programmer (& Profesi Lain)

Kata yang sederhana tapi kadang sangat dibenci oleh programmer atau mungkin profesi lain, yaitu “TINGGAL“. Kenapa kata “tinggal” sangat dibenci. Mari lihat beberapa contoh penggalan kata yang biasanya terucap dari client berikut ini, terutama kalau clientnya memang bukan dari kalangan IT.

“Itu tinggal tambahin satu kolom ya”
“Tinggal pindahin yang atas ke bawah kok”
“Tinggal di edit sedikit bagian yang itunya ya”
“Tinggal tambahin aja satu fitur buat bla..bla..bla”

Karena pada kenyataannya satu kalimat diatas bisa-bisa butuh waktu satu minggu, atau bahkan satu bulan untuk mengerjakannya, sedangkan client ga mau tau. Itulah mengapa kata “tinggal” sangat dibenci bagi programmer :))

Membuat sebuah aplikasi layaknya membuat sebuah rumah. Ketika rumah sudah dirancang di awal, maka sang mandor beserta para pekerjanya akan membuat rumah tersebut sesuai dengan yang ditetapkan diawal tadi. Mulai dari pondasi yang akan dibuat ukurannya berapa dan bahannya apa, tata letak dindingnya, jumlah kamar dan rancangan-rancangan lainnya. Dan tentu rancangan tersebut disesuaikan dengan waktu pengerjaan dan budget tentunya.

Permasalahan akan dimulai ketika ditengah pembangunan yang sudah dirancang tadi ternyata sang empunya rumah ingin mengubah rancangan rumahnya menjadi dua lantai. Dan bilang ke mandor “Tinggal tambahin satu lantai ya“. Kalau dengan waktu pengerjaan yang ditambah pasti mandor pun ga masalah. Yang sering terjadi adalah pekerjaan ditambah/dirubah sedangkan waktu pengerjaan harus selesai sesuai rencana awal. Padahal perlu waktu dan extra effort yang lumayan untuk mengubah maupun menambah “fitur dua lantai” tersebut. Pondasi yang sudah dirancang untuk satu lantai harus dibongkar lagi, kalau pondasi dibongkar pasti dong bangunan yang sudah dibuat setengah jadi pun harus dibongkar lagi dan dibangun kembali.

Sama halnya dengan pembuatan aplikasi, ketika aplikasi sudah dibuat sesuai rancangan awal dan ternyata ditengah jalan harus ada yang diubah maka harus membongkar (bahkan menghapus) lagi ratusan atau mungkin ribuan baris codingan yang sudah dibuat (yang ketika satu huruf saja salah, maka aplikasi bisa ga jalan hhehe) itulah alasan utama kenapa kata “tinggal” menjadi monster bagi programmer :))

Kalau begitu kenapa ga buat dari awal saja pondasi yang kuat untuk seratus lantai misalnya?

Untuk membuat pondasi yang bisa digunakan untuk seratus lantai pasti akan menyita waktu untuk merancangnya, belum lagi effort yang dikeluarkan harus lebih extra dibanding merancang pondasi yang cukup untuk satu atau dua lantai. Bisa-bisa waktu habis untuk merancang pondasi sedangkan bangunannya tidak jadi-jadi dan belum tentu bangunannya akan ditingkatkan hingga seratus lantai oleh sang empunya rumah.

Itu mungkin sebuah analogi yang dirasakan beberapa programmer yang pernah saya temui dan tentu pernah saya alami. Yah memang masih bisa dimaklum kalau memang clientnya dari kalangan non-IT, tinggal bagaimana sang programmer memberitahu bahwa satu kalimat di aplikasi terkadang memerlukan waktu satu bulan untuk mengerjakannya. Dan cara saya memberi tahu kepada khalayak umum salah satunya dengan menuliskannya disini :D

Wisyudah

26 September 2015, Pendopo Politeknik Negeri Bandung jadi saksi sekitar seribu tujuh ratus lulusan dari politeknik ini. Mulai dari anak D3, D4 dan Magister Terapan. Termasuk saya di dalamnya sebagai anak D3. Alhamdulillah.

Diibaratkan naik gunung, pagi ini merupakan akhir dari perjalanan atau kembali pulang ke rumah dengan selamat. Setelah tiga tahun yang lalu bersusah payah mendaki untuk mencapai puncak (sidang tugas akhir, 30 Juli 2015), lalu dilanjut dengan revisi sebagai perjalanan menuruni gunung hingga pos awal yang bisa dibilang tidak mudah juga. Dan wisuda bagi saya merupakan perjalanan menuju rumah (kembali ke orangtua) untuk selanjutnya meminta izin untuk memulai lagi perjalanan lain. Perjalanan mendaki gunung baru :)

Dan kini kuliahnya udahan. Teman-teman seperjuangan sudah memulai perjalanan barunya masing-masing. Semoga kita bisa bertemu lagi lain waktu sambil menceritakan perjalanannya masing-masing.
Mungkin nanti bakal sulit untuk ngumpul bareng, ga ada lagi kongkow disaat kuliah kosong, ngobrol ngalor ngidul sampe ngakak, begadang bareng ngerjain tugas (wkwkw) dan hal lainnya yang cuma bakal di dapet saat jadi mahasiswa. Dan ga ada lagi libur panjang lebih dari sebulan kalau udah jadi pekerja :D

Terima kasih buat seluruh pihak yang sudah membantu baik secara langsung maupun tidak dalam seluruh proses perkuliahan selama tiga tahun ini. Kepada :

  • Orangtua dan keluarga yang sudah mendukung
  • Direktur yang sudah memberi izin kepada saya kuliah di kampus Politeknik Negeri Bandung
  • Dosen dan para staff Jurusan Teknik Komputer yang sudah membimbing
  • Seluruh anggota Himpunan Mahasiswa Komputer
  • Teman-teman seangkatan 2012 Jurusan Teknik Komputer
  • Teman-teman 2010, 2011, 2013, 2014, juga 2015 yang baru masuk
  • Dan seluruh pihak yang sudah membantu yang ga bisa disebut satu-satu

Dan ga lupa juga mohon maaf lahir dan batin kepada seluruhnya jika selama tiga tahun ini banyak salah baik perkataan, maupun perbuatan.

Dan perpisahan merupakan akhir dari pertemuan namun awal dari rasa rindu. (pidibaiq)

Selamat menempuh hidup baru kawan, sampai jumpa kembali !

Andai Ramadhan Tak Ada

Note to my self.

Allah menjadikan bulan ramadhan sebagai ladang untuk meraih ampunanNya, keberkahanNya, kasih sayangNya dan kebaikan-kebaikanNya.

Andai bulan penuh berkah ini tak ada, dapatkah kita menyengaja berpuasa? Dapatkah kita menyengaja shalat tarawih ataupun shalat malam? Mungkin hanya para orang soleh dan ulama yang menjalankan :)

Namun dengan adanya bulan ramadhan, seluruh umat muslim – baik yang saleh, agak soleh, bahkan yang kurang soleh – semua menjalankan puasa demi mendapatkan ampunanNya, demi menjalankan perintahNya.

Kurang baik apa lagi coba Allah itu? Dia memberikan kesempatan – dan juga mengingatkan – umat muslim untuk memperbaiki diri agar mendapat ampunanNya. Ditambah lagi Allah melipatgandakan setiap pahala saat melakukan perbuatan baik layaknya promo di mall, buy one get seventy. Allahuakbar.

Bulan ramadhan juga merupakan bulan pendidikan, bulan madrasah, bulan penggemblengan. Pada bulan ini muslim sedunia sangat disiplin, menahan rasa lapar dan haus serentak, mulai dari subuh hingga maghrib tanpa ada yang berani melanggar. Tanpa perlu adanya peraturan daerah maupun pemerintah.
Tayangan televisi berubah menjadi lebih banyak tayangan religius ditambah penampilan artis yang lebih sopan. Bukankah itu termasuk berkah ramadhan? Andai bulan ramadhan tak ada, mungkinkah para artis memiliki kesempatan untuk berpakaian lebih sopan?

Layaknya sekolah, setelah lulus kita dituntut untuk mengaplikasikan pelajaran yang didapat di sekolah untuk diterapkan pada kehidupan nyata. Begitu pun bulan ramadhan, tugas dan tantangan kita setelah ‘lulus’ dari bulan ramadhan adalah menjaga hasil binaan bulan ramadhan untuk diaplikasikan pada bulan-bulan selanjutnya.

“Semoga Allah menerima ibadah dari kami dan darimu, shaum kami dan shaummu.

Ya Allah, Pertemukan kami di Bulan Ramadhan tahun berikutnya, dalam keadaan Sehat Walafiat, mudahkanlah Rezeki kami dan segala urusanku Ya Allah”

Aamiiiin.

IG : @khairilnst

– Bandung, 1 Syawal 1436H.