Guci Terakhir Mamad

Ilustrasi

Kisah ini saya ambil dari kisah yang saya dengarkan di MQ FM yang diceritakan oleh Ust. Prayitno ( kalo ga salah ) beberapa waktu yang lalu.

Saya akan menceritakan kisahnya dengan sedikit perubahan redaksi. Mohon maaf apabila ada kesamaan nama tokoh , tempat kejadian , dll . Ini hanya sebuah cerita Fiksi yang semoga bisa bermanfaat untuk kita semua. :)

Alkisah ada seorang pegawai pengrajin guci antik di daerah Kota Kembang alias Bandung. Mamad, itu lah nama panggilan yang biasa disebut oleh teman-teman di tempat ia bekerja. Yang diambil dari nama aslinya yaitu Somad Somantri. Dalam hidupnya Mamad hanya memiliki seorang istri yang setia menemani sampai saat ini. Ia belum dikaruniai seorang anak. Namun Mamad tetap sabar menjalani hidupnya.

Sudah sekitar 10 tahun Mamad bekerja di tempat Ko Akhiong, sang bos kerajinan guci antik yang sudah tersohor sampai luar negeri tersebut. Guci yang dibuat berbeda dengan guci yang biasa dijual di tempat lain. Gucinya terbuat dari kaca pilihan nomor satu , dan sebagian besar gucinya dihiasi pernak – pernik yang terbuat dari emas. Itulah yang membuat gucinya ditaksir sampai puluhan juta rupiah.
Setiap harinya Mamad & kawan – kawan di tempat kerjanya biasa mengerjakan satu sampai dua guci per hari sesuai permintaan konsumen.

Singkat cerita suatu hari Mamad yang sekarang sudah ‘berumur’ meminta kepada Ko Akhiong sang bos, untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai karyawan di tempat kerjanya.

Bos, boleh bicara sebentar bos, ukhuk ukhuk.. (batuk) ? ” tanya Mamad di dalam ruangan Ko Akhiong.

Oh silahkan Mad , duduk Mad !” jawab Ko Akhiong sambil mempersilahkan duduk Mamad.

Aya naon Mad ?” ( ada apa Mad ? ) , tanya Ko Akhiong

Gini bos , saya mau ngundurin diri bos, saya udah terlalu tua untuk bekerja disini..” ujar Mamad sambil diselingi dengan batuknya.

oh , kitu mad , nya ari daek na kitu mah teu nanaon sih mad, saya ge da teu maksa ai rek eureun gawe mah. Heu mad teu nanaon” ( oh, gitu mad, ya kalo mau nya gitu sih ga apa – apa mad, saya juga ga maksa kalo kamu mau berhenti kerja, iya mad ga apa apa ) jawab Ko Akhiong dengan menggunakan bahasa sunda yang intinya Ko Akhiong memperbolehkan Mamad untuk berhenti bekerja.

Mamad ingin ‘pensiun’ karena ia sudah cukup berumur, kini ia sudah mulai tidak kuat lagi untuk mengerjakan pekerjaannya sebagai¬†pengrajin guci. Akhirnya karena Ko Akhiong pun sudah tak tega melihat keadaan Mamad, ia pun mengijinkan Mamad untuk pensiun dari tempat kerjanya.

Namun sebenarnya dalam hati, sang bos kurang ‘ikhlas’ melepas Mamad untuk keluar dari tempatnya, alasannya yaitu Mamad sangat produktif dibanding pegawai – pegawai yang lainnya, sangat jarang ia menemukan pegawai se-rajin Mamad , selain itu Mamad pun memiliki semangat kerja yang luar biasa. Namun apa boleh buat melihat kondisinya, ya.. Ko Akhiong pun harus ikhlas melepas Mamad.

Setelah itu Ko Akhiong memberikan syarat kepada Mamad sebelum ia berhenti bekerja di tempatnya. Mamad disuruh membuat guci terakhir yang paling bagus dan konsep desain gucinya diserahkan kepada Mamad semua, mulai dari bahan hingga pernak – pernik. Ini sebagai kenang – kenangan untuk perusahaan , kata Ko Akhiong walaupun sedikit tak tega menyuruhnya.

Akhirnya Mamad pun menyanggupi permintaan sang bos walaupun ia sudah sedikit capek namun ia bertekad ingin membahagiakan sang bos agar ia bisa dikenang di tempat perusahaannya dan sekaligus sebagai ucapan terima kasih kepada Ko Akhiong yang sudah memberikan pekerjaan padanya untuk menghidupi sang istri tercinta. Dan Mamad pun akan mengerjakan Guci Terakhirnya itu keesokan harinya.

Esok hari pagi Рpagi sekali sebelum pegawai lainnya datang Mamad sudah datang dengan semangatnya walaupun tubuhnya tak bisa menyeimbangi semangat jiwanya yang berkoar-koar untuk menyelesaikan pekerjaan terakhirnya. Jantungnya berdegup kencang pertanda kelelahan. Setelah tenang Mamad pun memulai membuat Guci nya dengan cekatan dan dengan sedikit bantuan dari teman-teman nya yang sudah mulai berdatangan. Di polesnya emas yang berkilauan di sudut-sudut guci mempercantik keindahan guci. Mamad bekerja sepenuh hati agar bosnya tak kecewa.

Ditengah – tengah proses pembuatan guci tersebut Mamad pun teringat dengan istri nya yang mendamba – dambakan sebuah guci berlapis emas itu bersanding di kamar rumahnya yang sederhana.
Maklum walaupun Mamad bekerja di tempat yang menghasilkan sekarung uang, tetap saja sebagai karyawan, ia di beri upah oleh Ko Akhiong hanya cukup untuk kehidupan sehari – harinya saja.

Ingatan terhadap istrinya itu hanya berlangsung sekejap ia kemudian meneruskan kembali pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi. Ia hanya bisa berdoa agar impian sang istrinya dikabul.

Dan akhirnya Mamad pun bertemu dengan Ko Akhiong dan memberitahu bahwa pekerjaan Guci Terakhirnya itu sudah selesai. Dan Ko Akhiong pun takjub melihat keindahaan guci terakhir Mamad yang dibuatnya. Kemudian Mamad pun dibawa menuju ruangan Ko Akhiong. Di dalam ruangan Mamad ngobrol-ngobrol dengan Ko Akhiong dan di akhir obrolannya Mamad diberi uang pesangon yang cukup lumayan sebagai tanda terima kasih Ko Akhiong kepadanya.

Setelah itu Ko Akhiong memanggil salah satu karyawannya untuk mengantarkan Mamad ke rumahnya dengan menggunakan mobil Ko Akhiong. Mamad pun sedikit heran dalam hati, “kok nganter saya aja ampe pake mobil padahal pake motor juga kan bisa”.

Ujang ! , kadieu jang anterkeun Mamad ka imahna nya, sakalian angkat guci eta asupkeun ka mobil. ” ( Ujang !, kesini jang antarkan Mamad ke rumahnya, sekalian angkat guci itu masukan ke mobil ) perintah Ko Akhiong kepada Ujang.

Muhun pak” ( iya pak ) jawab Ujang dan langsung mengerjakan apa yang diperitah sang Bos.

Akhirnya keheranan Mamad terpecah, ternyata Ko Akhiong menyuruh karyawannya untuk mengangkat guci yang Mamad buat tadi dan dimasukan ke mobil yang akan mengantarkan Mamad ke rumahnya. Tak diduga Ko Akhiong ternyata memberikan Guci Terakhir itu untuk Mamad, dan Mamad pun mengucapkan terima kasih berulang-ulang kepada Ko Akhiong. Dan setelah bersalam – salaman kepada seluruh rekan – rekan kerjanya Mamad pun diantar oleh temannya ke rumahnya diiringi hati yang begitu senang.

Aku datang Istriku…” teriak Mamad dalam hati.

Itulah sebuah kisah yang begitu menakjubkan, hikmah yang dapat diambil ialah :

Kerjakan lah suatu pekerjaan dengan sepenuh hati, Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan.

 

Bandung 2010 | ditulis untuk melepas penat akibat pusing memikirkan Laporan & Tugas Akhir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha : * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.