Setan Dago Pakar

Sebuah kisah bersama teman-teman waktu zaman sekolah beberapa tahun kebelakang. Walaupun judulnya berbau misteri tapi ini sama sekali bukan cerita horror, misteri, dsb. Kisah ini bisa membuat saya ketawa sendiri jika mengingatnya kembali.

Pada hari itu, saya dan beberapa teman yang berjumlah sekitar 6 orang berencana melepas penat,weisss gaya. Sepulang sekolah akhirnya kami memutuskan untuk pergi menuju tempat wisata di sekitar Bandung.  Kami pilihlah Taman Hutan Raya Juanda Bandung di daerah Dago. Atau  tempat wisata ini biasa disebut Dago Pakar. Kebetulan saya memang belum pernah kesana sebelumnya. Yoga, Raihan, Adi juga ikut.

Singkat cerita, sampailah kami di Dago Pakar. Di dalam Taman Hutan ini yang pasti terdapat berbagai macam tumbuhan, namanya juga hutan. Selain itu ada tempat menarik juga seperti Curug (air terjun) Omas, Curug Lalay, Curug Koleang, Curug Kidang, dan ada juga Gua Belanda dan Gua Jepang satu lagi Gua Ganteng.

Tujuan kami kali ini mau melihat Gua Belanda dan Gua Jepang, untuk mencapai Gua tersebut kami berjalan kaki melewati jalan yang sudah disediakan. Jalan yang ukurannya hanya cukup untuk satu mobil. Lumayan jauh, tapi ga kerasa karena udara disana sejuk dan pemandangannya pun keren. Ga usah takut kesasar juga, karena disana disediakan petunjuk jalan.

Sampailah kami di Gua Jepang, gelap dan dingin. Tak ada petugas resmi yang saya lihat, yang ada hanya para penyedia senter yang menyewakan senter kepada kami. Kami sewa beberapa senter dan masuk ke dalam Gua di temani oleh abang yang punya senter dan si abangnya pun layaknya tour guide, dia menjelaskan kepada kami tentang sejarah Gua yang pernah dipakai Uji Nyali ini, kamipun mengiyakan saja.

Setelah puas mengelilingi Gua Jepang, kami lanjut masuk ke Gua Belanda yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Gua Jepang. Dan setelah selesai berkeliling di Gua Belanda perjalanan pun selesai. Hari sudah sore, sebelum pulang kami menyempatkan mengisi perut di warung sekitar, sambil berfoto.

Setelah selesai makan, kami berjalan perlahan untuk segera pulang melewati jalan yang sama saat kami menuju Gua tadi. Sambil berjalan Raihan masih menghabiskan sisa jagung bakar yang ia beli di warung tadi. Sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan yang indah, sesekali saya jepret menggunakan kamera digital.

Di tengah perjalanan kami berhenti sebentar karena kata si Adi disini spot-nya bagus untuk difoto.

Wah disini bagus, coba foto ah, sambil nunjuk ke sana” kata Adi.

Iya keren euy, ayo lah!” kata saya, Raihan, dan Yoga. Alhasil kami berempat pun berhenti, sedangkan teman yang lain lanjut jalan kaki.

Giliran pertama Adi meminta untuk di foto. Adi berpose membelakangi kamera sambil menunjuk ke hutan sebrang. Ckrek…. ini hasilnya.

Adi @ Dago Pakar

Adi @ Dago Pakar

Karena saya bukan photographer pro jadi asal jepret saja yang penting keliatan si Adi dan hutannya hhe.
Setelah Adi selesai difoto, Raihan pun kabita ingin difoto seperti pose Adi, membelakangi kamera dan menunjuk ke arah hutan sebrang. Ckreek.. ini hasilnya.

Raihan @ Dago Pakar

Raihan + Jagung Bakar @ Dago Pakar

Selesailah sudah sesi pemotretan. Namun saat kami mau melanjutkan jalan kaki, eh ternyata Yoga pun ingin dipotret seperti Raihan dan Adi. Ok saya pun mempersilahkan Yoga untuk berpose seperti Adi dan Raihan.
Yoga sudah berpose membelakangi kamera dan sedikit bergaya, dan saya sudah bersiap membidik kamera ke arah Yoga, sedangkan Adi dan Raihan berada di dekat saya.

Awalnya tidak ada niat apapun saat ingin memotret Yoga, tinggal jepret dan selesai. Namun entah setan Dago Pakar mana yang masuk ke pikiran saya hha, akhirnya saya punya ide beberapa detik sebelum saya menekan shutter kamera.

Ssst.. ayo, ayo jalan” kata saya kepada Raihan dan Adi sambil berbisik.

Kami bertiga berjalan perlahan tanpa suara, dan meninggalkan Yoga yang sedang berpose membelakangi kamera layaknya model. Untung saat itu ga ada orang yang lewat, kalau ada mungkin Yoga bisa disangka …..
Mungkin karena Yoga sedang menikmati alam yang begitu indah dan sejuk, jadi Yoga belum sadar juga bahwa kami sudah tidak ada dibelakangnya dan kami bertiga sudah berjalan beberapa meter menjauh dari Yoga.

Setelah beberapa lama Yoga baru tersadar bahwa sudah tidak ada suara di belakangnya, dan akhirnya Yoga pun membalik dan berjalan mengejar kami yang sudah cukup jauh meninggalkannya sambil menahan ketawa, dan baru lah ketika Yoga datang, kami tertawa lepas bersama, termasuk Yoga.

Itulah salah satu dosa kami saya kepada Yoga hhe, untuk itu,
Kami segenap pimpinan dan karyawan dari khairilnst dot kom mengucapkan : Mohon maaf lahir dan bathin sebesar-besarnya kepada Yoga karena tidak sempat memotret. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha : *