Menapaki Gunung Burangrang

22 September 2012 — Sekitar pukul tujuh belas motor legenda hitam digas menuju jalan Cihanjuang – Cimahi untuk nunggu abang bersama kawannya (kang Rachmat) yang datang dari Depok. Malam ini kami berencana naik ke puncak gunung Burangrang di daerah Bandung. Setelah bertemu dan sedikit kordinasi, saya jalan duluan menuju pos dan mereka berdua naik angkot untuk mencapai pos pendakian di daerah Cisarua. Kami akan naik melalui jalur KOMANDO.

Saya sampai duluan di gerbang KOMANDO, namun ini bukan awal pendakian. Dari gerbang KOMANDO masih masuk lagi mungkin sekitar 4-5Km dan ditemani oleh jalanan yang rusak. Setelah melewati 1-2Km jalanannya masih berbentuk, namun setelah masuk ke persimpangan berbentuk Y jalanannya bukan seperti jalan, namun seperti sungai yang mengering, penuh batu. Ditambah dengan tidak adanya satupun lampu jalan, hanya mengandalkan lampu motor saja. Untungnya sang legenda hitam masih bisa diajak kompromi.

Akhirnya sampai lah di pos, saya kira ini adalah pos awal pendakian karena keadaan sudah gelap jadi tidak terlihat tulisan-tulisan di pos tersebut. Hanya ada beberapa orang yang sedang berdiri di pos tersebut.
Pak kalo ke Kopasus lewat sini ya ?” tanya saya.
Ia dek masih lurus terus, emang ke kopasus mau apa ?” bales si bapak.
Mau ke Burangrang pak” kata saya.
Oh sekarang lagi ada latihan dari Australia dek, takutnya nanti ada apa-apa saya ga tanggung jawab, biasanya sih mereka pake peluru asli kalo latihan. Paling kalo mau camping di Curug Layung aja dek, banyak kok yang pada kesini.” jawab si bapak.

Waduh! agak bingung juga masa udah siap mau naek harus dibatalin, apalagi abang dan temannya yang jauh-jauh dari Depok. Akhirnya saya coba hubungi abang yang masih di perjalanan menuju pos namun ternyata sinyalnya tidak ada dan saya turun dulu melewati jalan yang ‘bagus’ lagi.
Setelah kami bertiga bertemu, kami diskusi lalu kami menuju pos Curug Layung dan si bapak tadi menjelaskan kembali kepada abang tentang adanya latihan. Akhirnya diputuskanlah untuk camping di Curug Layung. Dengan membayar 10rb kami masuk ke kawasan Curug Layung dan camping disana. Kami cari spot untuk mendirikan tenda lalu masak dan makan sambil mengatur rencana lagi untuk naik ke Burangrang.
Tadinya setelah kami membayar tiket masuk ke Curug Layung kami mencoba untuk langsung lurus ke arah Kopasus untuk meyakinkan apakah memang benar sedang ada latihan di gunung Burangrang, namun saat kami akan melangkah ke sana, para bapak-bapak yang berkumpul di pos Curug Layung menahan kami agar tidak kesana. Apa boleh buat, kami pun dengan setengah hati tetap ke Curug Layung.

Setelah diskusi lagi di tenda, akhirnya kami rencanakan besok pagi-pagi sekali sekitar jam 3 kami siap-siap menuju pos Gunung Burangrang. Setelah makan dan beres-beres akhirnya kami tidur ditemani dinginnya udara malam.
Sekitar jam 3.30 pagi alarm handphone saling bersahutan dan kami pun membuka mata. Kami bangun lalu segera membuat minuman hangat dan sedikit cemilan. Mencoba membuat api unggun namun sayangnya hampir setengah jam api unggun tidak berhasil dinyalakan. :D

Setelah selesai merapihkan dan bersih-bersih peralatan di sungai yang mengalir dari curug Layung kami bergegas menuju pos kopasus saat keadaan masih gelap dan tentu para penjaga pos Curug Layung masih tertidur pulas.
Akhirnya kami sampai di pos kopasus sekitar pukul 05.00 dan di pos tersebut ternyata penjaganya masih tertidur, kami tidak tega (padahal takut) untuk membangunkan penjaga pos. Sambil menunggu, kami gelar dulu matras dan plastik untuk melaksanakan sholat subuh.

Tak berapa lama penjaga pos pun keluar dan kami langsung menyapa dan menanyakan perihal adanya latihan yang dibilang penjaga pos curug Layung tadi malam tersebut, dan bapak penjaga pos itu berkata “Kata siapa ?? kalo mau ke Burangrang langsung aja ke sini, kalo yang dibawah (curug Layung) ga ada hubungannya sama yang disini” Kira-kira begitulah bapak penjaga pos itu bertutur. Dan kami makin yakin bahwa kami tertipu. :D

Pos Komando

Sekitar pukul enam dan registrasi beres akhirnya kami langsung memulai langkah pertama menuju puncak Burangrang. Kami berjalan perlahan dan diselingi beberapa kali istirahat. Melewati area pohon Pinus yang indah, dan setelah itu melalui jalur yang bisa dibilang kecil karena hanya cukup untuk satu orang.

Jalur

Berjalan pada jalur ini memang harus ekstra hati-hati karena disamping jalan yang kecil, kiri-kanannya pun langsung jurang yang menganga lebar dan sedikit tertutupi oleh dedaunan. Jalur ini tidak selamanya naik terus saat mendaki, ada beberapa turunan yang cukup panjang. Kami pun sempat ragu dengan turunan panjang ini takutnya kami salah jalan, namun ternyata memang itu jalurnya. Selain itu terdapat juga medan yang agak curam naiknya mungkin hampir 70 derajat kemiringannya, untuk mempermudah kami gunakan webbing yang dibawa abang :D

Walaupun jalur yang curam dan penuh jurang, kita tetap bisa menikmati pemandangan yang luar biasa di beberapa spot, terutama saat-saat mendekati puncak. Gunung-gunung dan perbukitan hijau terhampar luas sepanjang mata memandang. Subhanallah pokoknya…

Sebelum sampai puncak kita dihadang oleh tanjakan setan yaitu tanjakan yang curam dan panjang, dengan menggunakan tali tambang yang memang sudah disediakan, satu persatu kami naik dan kembali melanjutkan perjalanan yang tinggal sedikit lagi mencapai puncak.

Akhirnya setelah sekitar 3 jam perjalanan, Alhamdulillah kami sampai di puncak dan langsung mempersiapkan acara masak-memasak :D. Selain kami ada juga beberapa grup yang sedang menikmati puncak Burangrang juga, namun mereka sudah sejak tadi malam ngecamp disini. Sama seperti kami, mereka pun sempat tertipu oleh ‘Curug Layung’, namun mereka langsung mengambil jalur lain untuk sampai ke puncak Burangrang ini.

Puncak

Sekitar pukul sebelas, setelah proses masak-memasak dan meng-upload makanan ke dalam perut tuntas, kami pun bergegas beres-beres perlengkapan dan langsung bersiap turun dari puncak gunung Burangrang ini, namun sebelumnya proses yang tak kalah penting yaitu dokumentasi wajib dilaksanakan. :p

Masak

Di tengah perjalanan menuruni gunung, saya merasakan adaya gejolak pada perut ini mungkin akibat terlalu banyak meng-upload makanan dan mau tidak mau harus dikeluarkan demi kelancaran perjalanan ini hehehe, akhirnya tepat di area datar saya menemukan tempat pembuangan ‘artefak-artefak’ dan sekaligus menjadi pembuangan pertama kalinya saat naik gunung. :D

Sekitar 2 Jam kami menuruni gunung Burangrang ini, akhirnya sampailah di pos penjaga tadi dan kami bergegas pulang menuju rumah dan langsung istirahat dengan nyenyak.
Alhamdulillah…

*Cerita versi bang Fadhli –> Pendakian Gunung Burangrang + (ditipu ke) Curug Layung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha : *