Perjalanan Menuju Gunung Manglayang

Minggu ini memang minggu yang padat, berbagai tugas & presentasi dilakoni #curcol. Tengah minggu abang ngabarin dan ngajak naik ke gunung Manglayang di akhir pekan. Pas sekali untuk menghilangkan kepenatan ini :D.

Akhirnya Sabtu (8/12) sore ini saya menumpang Karunia Bakti ekonomi yang mengantarkan saya ke tol Cileunyi untuk bertemu dengan abang dan kedua temannya. Hujan, Asap rokok ,pengamen, tukang permen jahe, menemani saya dan penumpang lain dalam bus yang sangat lincah berlenggak-lenggok di padatnya jalan tol dalam kota, cukup ngeri. Setengah jam, sampailah di pintu tol Cileunyi, dan saya menunggu rombongan abang dan teman-teman (ka Nunu dan ka Moa) datang. Setelah kami bertemu, lalu maghriban dulu dan repacking sebentar , selanjutnya kita langsung menuju kaki gunung Manglayang, walaupun tenda satu lagi tertinggal di bus yang ditumpangi rombongan abang tadi.

Menuju gunung Manglayang kami menumpang angkot jurusan Cileunyi-Sumedang 04, dan turun di kampus UNPAD. Setelah tanya sana – tanya sini karena belum tau persis posisi gunung Manglayang, kami berjalan ke arah Kiarapayung di tengah gelapnya malam.

Kami memutuskan berjalan menuju kaki gunung karena perkiraan kami ga terlalu jauh. Sekitar 15 menit kami berjalan, ternyata ada angkot yang menawarkan untuk ditumpangi karena sekalian mau balik ke pul nya, dengan senang hati kami pun ikut tentu dengan memberi alakadarnya :D.
Setelah turun dari angkot kami jalan lagi, kata pak supir tadi kaki gunung masih lumayan jauh. Baru jalan sekitar 5 menit ada sebuah mobil pick-up bersama pak supir yang baik hati dan menawarkan untuk ditumpangi, senang sekali rasanya :D. Kami naik dan ternyata benar jalan masih panjang untuk sampai ke kaki gunung, ga kebayang kalo kita jalan kaki mungkin bisa lebih dari 1 jam. Kami diturunkan di sekitar area warung yang bertepatan dengan perut yang sudah miscall, singgahlah kami di warung dan menyantap makanan sebagai pengisi cadangan energi untuk naik.

Selesai santap makan kami lanjut perjalanan sambil bertanya tentang jalan menuju puncak Manglayang kepada beberapa orang sekitar dan katanya start untuk mendaki itu dari daerah Barubeureum yang jaraknya masih lumayan jauh. Namun kata pak supir pick-up yang kami tumpangi tadi, start mendaki bisa langsung dari jalan tanah lurusan warung tadi. Bingunglah kami.

Kami putuskan akan start lewat Barubeureum, baru beberapa menit berjalan kami melewati para bapak-bapak yang sedang ngumpul dan kami menanyakan kembali untuk memastikan. “Lewat Barubeureum mah jalannya jauh, lewat sini aja (sambil nunjuk ke jalanan tanah) biar cepet” kata bapak yang menggunakan seragam hansip. Ditengah kebingungan akhirnya tanpa basa-basi kami mengikuti saran si bapak, kami langsung start menuju perkebunan.

Bermodal nekat kami menyusuri jalan setapak ditengah dinginnya malam, saat itu sekitar pukul sembilan kami mendaki entah ini gunung Manglayang atau bukan kami langsung tancap gas saja :D. Setapak demi setapak kami lalui dengan kiri kanan semak-semak dan putri malu yang tersorot oleh sinar headlamp kami. Walau jalan ini agak licin sehabis hujan, semangat kami tak belum pudar.

Istirahat Sejenak

Sesekali kami beristirahat untuk sekedar minum dan meluruskan kaki. Tak ada satupun pendaki lain yang naik ke gunung ini, hanya kami berempat. Karena hari sudah gelap, jalan tak begitu jelas, beberapa kali kami salah jalan dan balik lagi, terutama salah mengambil jalan saat di persimpangan jalan.
Semakin malam suara-suara binatang malam mulai berdendang diiringi suhu udara yang semakin menurun, namun kami masih belum menemukan jalan yang tepat. Terpleset kini sudah menjadi hal yang biasa bagi kami akibat jalan yang licin. Sendal Eiger saya pun takluk menghadapi jalanan ini, hingga akhirnya putus dan saya harus jalan tanpa menggunakan alas kaki alias ‘nyeker‘ :D.

Sudah sekitar tiga jam kami mencari jalan namun belum juga ketemu, akhirnya kami memutuskan untuk mencari lahan untuk istirahat dan mendirikan tenda walaupun dapet lahan yang sangat pas-pasan dan blusukan. Setelah masak dan makan kami langsung tidur. Agar terasa lebih nikmat saya dan abang tidur beratapkan langit. (masih ingat tentang tenda yang tertinggal di bus ? hhehe )

Subuh kami bangun dan setelah sholat kami memasak lagi makanan dan minuman hangat untuk mengisi energi. Kami putuskan untuk naik lagi karena sekarang hari sudah terang dan jalanpun sudah jelas.

Kami melanjutkan perjalanan sekitar pukul tujuh pagi dan medan yang dilalui cukup curam, kami terus menanjak dan sampai di lahan yang agak besar untuk menikmati pemandangan yang amazing sekali dan tentu saja foto-foto, walau ini bukan puncak.
Karena semangat masih ada, kita lanjut naik lagi, rasa penasaran masih menghantui kami, dimana sebenarnya puncak Manglayang itu :D.

Keren Pemandangannya

Tak berapa kami berjalan, saya baru tersadar kacamata yang dikantongin tidak ada, dan saya balik lagi mencari kacamata yang malang itu. Alhamdulillah ternyata berhasil ditemukan walau dengan kondisi yang terinjak dan lensa yang retak :D

Sama abang

Di perjalanan kami bertemu dengan para pemburu babi hutan bersama para squadnya yaitu doggy-doggy yang tak henti menyambut kami dengan ‘salamnya’, lalu kami juga menanyakan puncak gunung Manglayang itu dimana, dan kata mereka terus saja sampai puncak sana (menunjuk ke atas. lihat gambar di bawah ini) dan ternyata Manglayang itu ada di Balik puncak itu. Waktu yang tepat untuk bilang Waw :D.

Kami pun mencoba terus berjalan walau dengan medan yang luar biasa menanjak dan terjal, hingga akhirnya energi sudah mulai habis dan sebelum puncak kami putuskan untuk turun kembali karena berhubung waktu juga yang tidak memungkinkan. Mungkin lain kali kita berjumpa lagi ya Manglayang.

Pemandangan dari atas

Kami kembali ke tempat kami mendirikan tenda tadi untuk membereskan perlengkapan dan langsung turun menuju area warung yang tadi malam untuk mengisi perut.

Sebelum pulang kami bersih-bersih dan sholat di masjid sekitar, setelah itu kami menuju Jatinangor dengan ojek dan saya langsung berpisah untuk menuju tol Cileunyi sedangkan abang dan rombongan yang akan balik ke Jakarta mau tidak mau harus ke Sumedang terlebih dahulu untuk mengambil tenda yang tertinggal dan terbawa di bus itu. :D

Alhamdulillah kami pun selamat sampai tujuan masing-masing.

Perjalanan Puncak Manglayang Ke 2 (baca disini).

3 Comments

  1. malam ini saya lg mellow [gitu ya istilah anak-anak jaman sekarang], kangen gunung manglayang yang dulu sering saya daki secara curi-curi sama teman-teman PA biar ga ktahuan orang kampus.
    postingan anda sedikit mengobati kerinduan saya. One Day Saya harus dan akan kembali ke gunung manglayang.
    good post. Salam kenal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha : * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.