Menuju Puncak Gunung Manglayang

Hari ini (5/1) kami (saya dan abang) berniat menuntaskan rasa penasaran untuk menggapai puncak Manglayang yang pada kesempatan sebelumnya belum tercapai ( baca cerita disini ). Pendakian ini kami rencanakan PP alias pulang pergi tanpa nenda.

Pagi buta kami menyusuri jalanan Cimahi hingga Jatinangor yang masih lengang dengan diiringi dinginya udara Bandung yang lumayan menusuk tulang menggunakan kuda besiĀ Beat.
Kami masuk melalui jalan samping kampus UNPAD Jatinangor, menyusuri jalanan hingga sampailah di daerah Barubeureum. Via jalur Barubeureum inilah kami akan mengawali pendakian. Di warung Bu Ipah, teh manis hangat dan mie menjadi lahapan kami sebelum mulai mendaki. Tak lupa kami titipkan motor di warung ini.

Belakang warung Bu Ipah

Belakang warung Bu Ipah

Jalur pendakian berada tepat dibelakang warung Bu Ipah. Dengan persiapan dan doa kami mulai pendakian dengan melewati aliran sungai kecil hingga masuk ke jalur tanah. Tak sampai lima menit kami langsung disuguhkan medan yang mulai menanjak namun belum terlalu curam. Langkah demi langkah kami lalui, perlahan namun pasti, diselingi istirahat beberapa ratus kali untuk sekedar mengatur napas yang kadang susah diatur karena kami berdua mungkin terlalu banyak tertawa dalam perjalanan hha.
Hingga akhirnya kami menemui medan-medan yang membuat lutut dan wajah hampir bertemu. Bahkan ditengah perjalanan terjadi tragedi layaknya film 5cm #eeaa, batu sebesar kepala manusia yang diinjak abang lepas dari tanah dan menggelinding tepat ke arah saya yang berada beberapa meter di bawah. “Awas batu Ril!!” teriakan abang disertai suara gemuruh batu yang menggelinding lumayan membuat saya panik, dengan cepat saya geser badan ini ke samping jalur sehingga batu menggelinding tanpa menyentuh tubuh saya, Alhamdulillah.

Medan Manglayang

Medan Manglayang

Setelah sekitar satu jam lebih mendaki, kami sampai di puncak timur gunung Manglayang, namun kami lanjut dulu menuju puncak utama yaitu puncak tertinggi (sekitar 1835 mdpl), pulang dari puncak utama baru kami rencanakan mampir di puncak timur.

Waktu yang ditempuh untuk mencapai puncak utama dari puncak timur sekitar 30 menit.
Angin kencang beberapa kali meniup rimbunnya pepohonan di area puncak utama ini ditambah kabut yang lumayan tebal. Area puncak utama ini luas dan terdapat sebuah gundukan tanah (yang katanya) makam. Saat itu sepi, hanya kami berdua. Setelah cukup puas berkeliling melihat-lihat area puncak dan berfoto ria kami langsung balik ke puncak timur untuk menikmati pemandangan.

Foto Bersama di Puncak Utama

Foto Bersama di Puncak Utama

Berbeda dengan area puncak utama, di puncak timur tidak terlalu tertutup oleh rimbunnya pohon, sehingga pemandangan lepas ke arah perkotaan dan pegunungan. Disinilah kami menikmati pemandangan yang indah sambil memasukkan makanan yang kami bawa ke dalam perut, dan tak lupa kami menyelingi dengan foto-foto :D

Area Puncak Timur

Area Puncak Timur

Setelah selesai menikmati keindahan ciptaanNya ini, kami pun menuruni gunung bersama tiupan angin kencang yang juga meniup habis rasa penasaran kami menggapai puncak Manglayang.

Video Dokumentasi Perjalanan :

One Comment

  1. kalo ga salah jalur yang anda daki itu sebutannya “Jalur 4”, jalur paling cepat menuju puncak sekaligus jalur yang paling berat, hehehe…
    hidup manglayang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha : * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.