Melihat Proses Pembuatan Alat Musik Bambu

Setelah nonton di tivi beberapa bulan yang lalu, ternyata di Cimahi ada Indonesian Bamboo Comunity atau disingkat IBC. Komunitas ini bisa dibilang penggiat alat-alat musik berbahan dasar bambu. Selain bermain dengan alat musik bambu, komunitas yang diketuai oleh kang Adang Muhidin ini juga memproduksi alat-alat musik berbahan dasar bambu seperti gitar, bass, set drum dan biola. Produknya sudah dikirim ke berbagai negara, bahkan peminat terbanyak malah dari luar negri sedangkan dari Indonesia sendiri sangat amat sedikit. :)

Penasaran ingin liat proses produksinya, saya pun hari ini (9/2) bergegas pergi mengunjungi workshopnya yang ada di jalan Melong Asih No 23, Cimahi Selatan setelah sebelumnya mengontak salah satu anggotanya. Selain liat proses produksi juga sekalian bikin video liputannya :)

Suasana workshop

Sampai di workshop kebetulan sedang ada kang Adang, kami akhirnya ngobrol santai terlebih dahulu sebelum melihat proses produksinya karena para seniman alat musik bambunya juga kebetulan baru datang dan masih sarapan. Segelas teh manis pun sekalian disuguhkan ke saya, hhehe jadi (ga) enak. :)

Sekitar jam sebelas barulah saya diajak langsung melihat proses produksi. Workshop dengan ukuran sekitar 5×4 meter ini merupakan tempat dimana alat-alat musik berbahan dasar bambu dirancang dan di produksi. Mulai dari pemotongan lalu pengeleman, pengepresan dan pembentukan tubuh alat musik hingga akhirnya alat musik siap dimainkan.

Workshop

Proses Produksi

Hasil Jadi

Setelah selesai pengambilan gambar kami pun ngobrol-ngobrol tentang bambu, lumayan kuliah perbambuan dua sks nambah ilmu, walau kuliah sedang libur tapi nyari ilmu tetep jalan hhehe. Beberapa pertanyaanpun saya lempar kepada para seniman-seniman bambu yang keren ini.

Q: “Kang kalau mau buat alat musik ini bambunya harus yang khusus ga sih?”
A: “Engga ada, bahkan bekas limbah atau bambu yang ada di jalan pun bisa, asal nanti kita maennya di teknik pembuatannya aja.”

Q: “Kalau untuk ketahanan dari bambu itu sendiri bisa berapa lama ya kang?”
A: “Uniknya bambu itu kalau sering interaksi atau digunakan maka akan kuat dan ga cepet rusak, kalau didiemin malah cepet rusak, ya kira-kira bisa sampe sepuluh tahun lah. Dan bambu juga kuatnya luar biasa, liat aja tukang Cuanki (baso pikul), ngangkut kotak basonya kan pake bambu yang cuma segaris tapi bisa kuat ngangkat beban yang berat. Dan belum pernah denger cerita bambu buat mikulnya patah hhehehe”

Abis ngobrol-ngobrol di workshop dan ngambil gambar udah selesai lanjut ke studio untuk melihat berbagai macam alat musik bambu yang udah jadi, sekaligus ngobrol lagi dengan kang Adang yang ramah.

Q: “Kang alat-alat ini udah di hak cipta-in belum?”
A: “Ah kita mah ga mau ambil pusing dengan yang begituan, bebas aja lah hhaha daripada ngurus yang kayak gitu mending bikin aja lah..”
Q: “Ga takut ditiru kang?”
A: “Udah ada yang niru sama persis tapi kita mah cuek aja lah hhaha, kan bambu mah milik dunia…”

Kami ngobrol lagi sedikit mengenai sejarah IBC dan yang uniknya ternyata kang Adang ini ga bisa memainkan alat musik. “Saya mah ga bisa maen musik, satupun hhaha. Takutknya kalau saya bisa nanti waktu bikin alatnya harus gini dan gitu (ngikutin kemauan sendiri). Banyak orang yang bilang tuh ketua komunitas IBC ga bisa maen musik, ah saya mah cuek aja hhaha”

Pernyataan yang keren dari Kang Adang juga yaitu, “kita mah ga minta-minta bantuan pemerintah, mending action aja, IBC juga dulu ga punya uang tapi sekarang udah bisa kayak gini (sudah ada bangunan untuk studio,workshop, dan sekertariat). Jangan jadiin uang sebagai orientasi, uang mah bonus lah hhaha” kami pun ketawa.

“Udah ah capek, ngomong wae hhaha” kata kang Adang mengakhiri obrolan kami di siang hari ini. Saya pun masuk ke studio sebentar untuk mengambil gambar dan akhirnya berpamitan juga kepada kang Adang dan para seniman-seniman.
Terima kasih kang Adang atas obrolan dan ilmunya hhehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha : *